Ming. Jun 20th, 2021

Tak Bisa Menutup Hati

TAK BISA MENUTUP HATI

Mungkin aku lapar, setelah semalam pikiranku terkuras olehmu. Aku telah menghentikan waktu beberapa saat, sekedar berdialog dengan angka yang begitu gesit berlari. Menanyakan sekali lagi kesungguhan hatiku padamu. Tapi tetap tak menemukan jawaban. Aku makin terhempas pada kenangan tentangmu. Lalu, aku memutar-mutar lagu yang mungkin terkait denganmu, aku tertawa sendiri. Makin konyol dan lebai.

Aku melihat embun yang rela mengikat dirinya di kelopak kelopak daun, mengiba pada matahari, meminta waktu pada musim agar lebih lama melumuri daun dengan kesejukan. Tapi yang didapat hanya hardikan kecil yang telah merenggut nyalinya untuk berlama-lama singgah di daun.

“Aku akan meninggalkanmu, saja!” kataku setengah tak yakin. Kau diam mematung seolah tak percaya, bahwa aku bisa melemparkan bom kecil itu padamu.
“Kau memang seperti anak kecil!” gumammu mengejek, lalu pergi begitu saja meninggalkan aku yang melongo.

Sejak saat itu aku bertekad mengubur semua tentangmu. Aku tak hendak mengusik ketenanganmu, bukankah kita tak memiliki komitmen apa pun. Jadi tak ada ikatan yang bisa menghentikan langkah kakiku untuk pergi meninggalkanmu.

Aku merampas sepotong angin yang legit, kukunyah dengan kemarahan lalu menelannya dengan kejengkelan seratus persen. Bahwa di sepanjang jalan, semua kata-katamu mulai mengganggu telingaku. Lalu senyum dan candamu mulai mengganggu pandanganku.
Aku duduk di atas batu menyeka keringat dan meminum sebagian.
Ah, asin!
“Kau tetap di situ saja, jangan bergerak mengikutiku,” bisikku menggigil.
Kau tertawa puas dan matamu berbinar sinis.
Aku makin benci dengan mata yang bisa melihatmu. Maka kucongkel saja, kutaruh dalam toples kue. Besok kalau aku sudah jauh darimu, kupasang lagi, dan aku tak melihatmu.

Kau tertawa makin keras, “Dasar anak kecil!” teriakmu mengolok.
Hatiku makin panas, tapi perutku lapar, aku makin lemah. Tak berdaya.

Aku beranjak pergi, kututup semua lubang agar kau tak bisa lagi masuk melalui celah mana pun. Tapi bagaimana menutup hati, ternyata kau sudah melekat di sini.
Ah, sialan!

#edisinggombal

karya Indah Patmawati

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: