Kam. Nov 21st, 2019

Tunggu Aku, John!

“Kris, aku down ”
“Aku akan datang. Tunggu! Jangan bertindak bodoh! Sepuluh menit. Tunggu…” Aku melompat dari kasur gepengku. Earplug kusingkirkan kasar dari telingaku. Dengan celana pendek dan kaus jersey Real Madrid, kuraih kunci motor yang menggantung bersama kunci kamar.

Motor sialan! Kusepak motor tua itu! Malah mogok saat genting begini. Kutinggalkan motor ini dan aku berlari ke ujung jalan, menunggu angkot.
Satu menit, dua menit, tiga menit tak ada juga. Siaaal!!
Tunggu aku John. Aku memutuskan berjalan cepat. Jarak kosanku dan rumah John tidak begitu jauh, 500 meter hingga persimpangan depan, kemudian kanan 50 meter, dilanjutkan masuk gang pertama 200 meter.
Tuhanku! Kurasakan kakiku melangkah secepat angin dan sedetik kemudian aku sudah berlari mendahului angkot dan kendaraan yang lain. Orang-orang mulai memperhatikanku, meledekku, dan menggodaku. John, tunggu. Sedikit lagi, 350 meter lagi!
Aku lari, cepat, lebih cepat dan sangat cepat. Wuushh! Beberapa orang berpendapat kalau pertemanan di jejaring sosial itu ya hanya sebatas saling sapa, ngobrol, dan gosip.
Lewat itu sudah, tak ada urusan. Maya tetap maya. Hahhh. Andai aku bisa begitu.
John, pria itu kukenal dari Facebook. Yang entah kebetulan atau takdir, enam bulan setelah pertemanan ternyata kami hanya berjarak 750 meter.
Dan aku pun masuk dalam kehidupannya. Nyata! Dia pria yang bermasalah secara psikologis. Suasana hatinya sungguh tak bisa ditebak. Sering marah, sedih, menangis, bahkan berniat bunuh diri. Keluarganya sudah angkat tangan. Mereka membiarkan John dengan mood-nya yang kacau. Gejala Bipolar disorder.
Tapi, aku nggak. Aku nggak akan lelah tentang John. Keluarga John tahu itu, mereka terkadang memanggilku untuk menenangkan John. Dan aku selalu bisa menenangkannya. Entahlah … Terkadang hal itu membebaniku juga, mau tak mau aku punya prioritas tambahan di samping pekerjaan, kuliah, dan cinta.
Cinta? Nah, aku baru saja diputuskan. Dia tak mau aku dekat John. Masalahnya, aku adalah obat penenang untuk John. Atau, aku punya rasa lebih terhadapnya? Mungkin ada, sedikit atau banyak?
Sudah sampai. Nafasku memburu disertai keringat yang membanjir di sekujur tubuhku. Rumah bercat biru itu berdiri megah dan hening. Seorang perempuan tua berdiri gelisah di depan pintu. Aku berlari menghampirinya.
“John?!”
“Di atas Neng, buruan Neng!”
Bendungan di pelupuk mata perempuan tua itu jebol seketika. Aku masuk ke rumah yang selalu tertata rapi itu, mendaki tangga yang terbuat dari kayu mahal dan memasuki satu-satunya kamar di sana.
Dia terlentang bertelanjang dada, matanya menatap kosong langit-langit kamar. Di dadanya terlihat beberapa bekas cakaran yang baru, merah dan berdarah. Kupeluk pria kurus itu. “Aku di sini John, tenang aku di sini”
Kubasuh lukanya dengan air hangat dan kuolesi tipis-tipis obat merah. Kusisir rambutnya yang ikal ke belakang. Jenggot dan kumis yang sudah panjang kucukur pelan-pelan. Dia rapi dan ganteng. Perempuan tua itu berkali-kali mengucapkan terima kasih padaku, dia selalu mendampingi aku menenangkan John.
Pandangan mata John tak pernah lepas dariku. Mataku ada di matanya. Kubimbing dia menuju taman rumahnya yang cukup luas. Di bawah rindangnya pohon mangga, kududukkan dia yang masih saja diam sejak aku sampai.
Semangkuk bubur ayam yang disiapkan Perempuan tua itu kusuapi pelan-pelan pada mulut yang kering dan pucat itu.
“Aaa” Dia membuka mulutnya, mengunyah, dan menelannya. Dia mulai stabil. Matanya sudah lepas dariku sesekali dan menikmati suasana.
“Jangan melukai diri sendiri lagi, jangan sekalipun John,”
Dia menatapku lama, “tadi aku sakit sekali di sini Kris,” dia menunjuk dadanya. “Sakit sekali, aku jadi ingin mati tadi.”
“Jangan lagi ya?” Kuletakkan tangannya yang besar di punggung tanganku. “Jangan ya?” pintaku sekali lagi.
“Kamu lama Kris, aku menunggumu… lama sekali…”
“Sepuluh menit John, itu nggak lama. Kamu hanya perlu bersabar sebentaarrr saja …”
“Sepuluh menit lama Kris”
Aku membaringkan tubuhku di samping John yang menatap langit. Kupeluk lengannya yang kurus.
Aku bercerita tentang kuliahku, kerjaanku, hal-hal yang menarik, menyedihkan, dan menjengkelkan kuceritakan kepadanya. Inilah hidup yang harus kita lalui dengan segala pernak perniknya.
“John, kamu itu seperti sebuah kocokan arisan lho”
“Hmm?”
“Iya, selalu mengejutkan”
John tidak menjawab. Dan diam pun seketika menjadi hiburan untuk kami berdua.
Hingga akhirnya dia mengatakannya. Dia mengatakannya. “Aku mencintaimu Kris”
Dan inilah dia, ini yang aku takutkan. Mataku berkaca-kaca dan pecah basah. Kupeluk tubuhnya padaku. Kuraih tangannya dan kucium. Aku harus bagaimana?
“Aku menyayangimu John, sangat sayang”
*****
Oleh: Connie Aruan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: