Rab. Jun 3rd, 2020

Vena Amoris

Photo by : Simon Chaput

“Vena Amoris”

Karya Angga I. Anurraga a.k.a Simon S. Maranzano
Wonosobo, Rabu 19 Oktober 2016

Aku hanya bisa duduk pada bangku kayu di sebuah lorong sempit ini, terdiam sambil berfikir tentangmu, tentang bibir dan manis kecupmu kala itu. Masa lalu yang sungguh menjebak, membuatku terperangkap diantara masa lalu, sekarang dan masa depan yang menjadi satu dalam vena-ku, beratkan langkah gontaiku. Memaksaku terhenti dari perjalanan panjang dengan sisa – sisa atas apa yang aku miliki, termasuk tubuh penuh luka ini. Aku rasa aku akan mati di bangku yang hampir rusak termakan waktu ini. Usang dan penuh debu, seperti aku saat ini yang sebentar lagi akan dijemput ajal dalam keadaan sendiri, terbuang, sekarat.

Siapapun yang membaca tulisan ini, mungkin kau adalah satu – satunya teman yang aku miliki saat ini, atau mungkin bukan, aku tidak tahu. Mungkin kita harus berkenalan dulu agar bisa menjadi teman. Tapi ini adalah keputusanmu untuk mengenalku atau tidak dengan berhenti membaca tulisan ini atau lanjutkan sampai akhir hingga cinta membuat detak jantung kita seirama. Tapi sebelumnya aku harus meneruskan perjalananku. Aku tidak mau mati di sini, tidak dengan bangku yang terus menghina keadaanku yang begitu buruk ini, dan mungkin otakku juga sudah mulai rusak karena mencurahkan hatiku kepada orang yang tidak aku kenal sepertimu.

Hey, kau masih disini. Aku tak menyangka kau masih mau menemaniku setelah perkenalan kita yang tidak seperti orang pada umumnya. Mungkin baru besok aku bisa sampai di tujuanku. Tujuan akhir dimana aku akan tenang menanti malaikat maut datang menjemputku. Di rumah, di tempat tidurku yang telah terlalu lama aku tinggalkan. Seperti janjiku di masa lalu ‘aku hanya akan berbaring di tempat tidur itu lagi, hanya jika kau ada berbaring di sisiku’. Mungkin kau tak pernah mendengar janji itu, tapi aku benar – benar tulus mengatakannya. Jadi biarkan aku menepati janjiku.

Jalan ini sungguh berbatu, tidak seperti dalam ingatanku. Sungguh menyiksa perasaan dan juga kakiku. Hanya kau dan pohon beringin tempatku bersandar ini yang tahu apa yang aku rasakan saat ini. Sewaktu aku kecil pohon ini terlihat lebih besar dan seram dari yang aku lihat saat ini. Aku jadi ingat dulu aku sering bermain dengan temanku Aldi di sini, dia selalu menakut – nakuti aku dengan cerita – cerita seram hingga aku takut untuk tinggal bahkan takut untuk pulang.

Aldi bukanlah teman sepertimu, mungkin ada istilah lain untuk teman yang menjerumuskan temannya sendiri dalam siksaan terberat yang tak terbayangkan. Membiarkanmu saat dimana kau benar – benar membutuhkan dia. Kau pasti punya teman macam Aldi. Dan aku percaya kau bukanlah teman seperti dia.

Sepertinya aku melihat seekor kuda hitam di balik semak – semak. Aku tak sabar menungganginya sampai rumah sambil terus bercerita denganmu agar aku tak lupa untuk bernafas. Berdoalah untukku teman.
Tapi sepertinya doamu tak terkabul dan itu salahmu. Kuda sialan itu lari setelah menyepakku begitu keras di perut. Sepertinya umurku semakin memendek saja. Sementara kau hanya diam saja tidak membantuku. Sial aku sangat haus dan lapar. Bekas tusukan pisau Aldi pun kembali terbuka. Aku harus cari perban atau sesuatu untuk menghentikan pendarahanku. Aku takkan bicara lagi denganmu. Mungkin aku salah menilaimu sejak pertama kali.

Hey… aku harap kau masih disini, maafkan perkataanku tadi siang. Aku tak bermaksud kasar, aku hanya menderita, kau takkan pernah tahu kata – kata apa saja yang akan keluar dari orang yang sedang menderita. Sekali lagi maafkan aku dan jadilah temanku lagi, temani aku malam ini. Suhu disini sangat dingin, aku sudah bersusah payah membuat api unggun untuk kita menghabiskan malam. Aku juga berhasil mencuri jagung dan ubi untuk malam ini dan sarapan besok pagi. Anggap ini sebagai permintaan maafku. Jangan pikirkan lukaku. Aku sudah menutupnya dengan jaring laba – laba.

Aku takkan tidur. Aku sudah bersumpah ‘Aku hanya akan tidur jika telah sampai di rumah’. Terimakasih kau masih mau menemani aku. Mungkin ini saatnya aku menceritakan tentang masa laluku. Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita berdua.

Semua dimulai saat Aldi entah bagaimana dia bergabung dengan komunitas rahasia yang begitu kejam. Sebelumnya aku tidak tahu apa – apa tentang komunitas itu sampai Aldi pun mengajakku bergabung. Aku tahu Aldi memang terobsesi dengan hal – hal magic, klenik, satanic, lucifer dan semua yang berkaitan dengan itu. Pada awalnya aku kira itu hanya kumpulan kutu buku dengan obsesi yang sama. Itu sebabnya aku mengiyakan ajakan Aldi.

Awalnya aku begitu antusias walau ada sedikit rasa takut. Setiap bulan purnama kami berkumpul bersama seluruh anggota di sebuah bangunan kuno yang terbengkalai yang telah disulap seperti kastil. Jaraknya begitu jauh dari peradaban melewati beberapa desa terpencil, beberapa hutan dan bukit. Kami juga wajib mengenakan baju hitam – hitam dengan topeng dan penutup kepala. Jadi kami tidak bisa saling mengenal satu sama lain di dalam komunitas itu. Memang begitu aturannya. Aku juga curiga, jika aturannya seperti itu kenapa Aldi bisa diperbolehkan mengajakku. Anehnya lagi di dalam kastil tersebut saat kami masuk, semua sudah ada di dalam seakan mereka memang tinggal disitu sementara hanya aku dan Aldi yang hanya setiap bulan purnama pulang pergi ke pertemuan itu.

Di pertemuan yang ketiga aku sudah mulai tidak nyaman dengan apa yang aku saksikan. Mereka melakukan penyiksaan kepada hewan. Seperti membakar anak kucing hidup – hidup, memutilasi kaki anjing dalam keadaan hidup, dan masih banyak kekejaman pada hewan – hewan lain pada hari yang sama. Aku bilang pada Aldi mau keluar tapi Aldi terus memaksaku untuk terus ikut. Katanya ritual yang semacam itu hanya setahun sekali. Aku akhirnya terpaksa menuruti kemauan Aldi meski aku sangat tidak nyaman. Bagaimana bisa aku bergaul dengan orang – orang kejam seperti itu.

Di pertemuan ke tujuh semua menjadi jelas, sekaligus itu menjadi awal mimpi burukku. Mimpi buruk yang aku kira tidak akan pernah berakhir. Alasan Aldi mengajakku adalah karena aku lahir di malam Jum’at Kliwon. Aku tidak tahu apa hubungannya penanggalan Jawa dengan Lucifer yang mereka sembah. Yang jelas Aldi mengajakku bukan untuk bergabung menjadi anggota, tapi sebagai hewan untuk disiksa. Kastil itu berubah menjadi neraka bagiku mulai malam itu juga. Kuharap kau takkan pernah ada di neraka seperti ini.

Di malam pertama mereka menelanjangiku, menggunduli, lalu mencambukku ratusan kali. Belum pernah aku merasa sakit seperti itu dan itu hanyalah sebuah awal dari siksaan – siksaan lainnya. Setelah puas mencambukku, mereka menyemprotku dengan semacam selang pemadam kebakaran, benar – benar menambah perih di sekujur tubuhku. Lalu aku di masukkan ke dalam sebuah sel yang tertutup. Gelap dan hanya sedikit cahaya dari lubang pintu kamar sel tempat mereka memberi kami makan yang sangat tidak layak. Di sel itu hanya ada satu kain hitam yang kotor dan satu ember untuk kencing dan berak. Kau takkan bisa membayangkan bau menyengat di sel yang kumuh itu. Selokan di dekat rumahmu saja jelas lebih nyaman.

Sambil menahan perih di punggungku. Aku mencoba menghangatkan tubuhku dengan kain kotor lusuh itu meski sebenarnya aku benar – benar tidak tahan dengan baunya. Mereka pergi setelah menutup pintu sel utama. Cahaya dari lubang pintu pun menghilang karena asal cahaya itu dari balik pintu sel utama. Suasana menjadi begitu hening. Rasa sakit semakin terasa.

Tiba – tiba terdengar suara memanggilku.

“Hey… hey… kau bisa dengar aku?” bisik suaranya sayup – sayup namun terdengar begitu dekat.
“Ya… aku dengar, dimana kau?” aku terus mencari mendekati sumber suaranya.
“Aku disini, kemarilah. Dan pelankan suaramu!” bisik dia lagi.

Aku rasa suaranya datang dari pojok sel ku. Aku tak bisa melihatnya, hanya saja dari situ suaranya begitu jelas dan kurasakan ada sebuah lubang sebesar jari telunjuk saat kuraba bagian dinding di bagian bawah. Kurebahkan kepalaku disitu dan kami memulai percakapan. Seakan kami berbaring bersebelahan tanpa ada tembok yang menghalangi kami.

“Kau baru ya?” tanya dia.
“Ya, aku baru sadar kalau aku masuk perangkap mereka malam ini, kau sendiri sudah lama disini?”
“Aku tidak menghitung, disini siang dan malam pun tak ada bedanya. Rasanya sudah seumur hidup aku disini.” Nada bicaranya mulai tidak berbisik, hanya bicara pelan, tapi aku tidak bisa menebak dia pria atau wanita. Suaranya terlalu berat untuk suara wanita, dan terlalu lembut untuk pria.
“Oh ya, siapa namamu?” kuharap dia memiliki nama yang berkarakter agar aku tahu jenis kelamin dia.
“Apa itu penting sekarang?”
“Entahlah, menurutmu?”
“Meskipun penting, aku tidak bisa memberitahumu?”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingat. Entah apa yang mereka lakukan terhadap otakku.”
“Kau hilang ingatan? Kau juga tidak ingat bagaimana kau bisa disini?”
“Tidak, aku hanya ingat kejadian sejak aku disini, itu saja mungkin aku disini lebih lama dari yang bisa aku ingat.”
“Bagaimana kehidupan di masa lalumu sebelum disini? Sedikitpun tidak kau ingat?”
“Mungkin sedikit, tapi aku juga ragu, ingatanku hanya berupa kilasan – kilasan.”
“Seperti apa?”
“Emm… Entahlah. Mungkin itu bukan ingatan, tapi mimpi. Atau mungkin hanya khayalan.”
“Ceritakan saja, mungkin itu bisa membantumu mengingatnya.”
“Aku ingat sebuah ciuman, begitu lembut dan manis, seakan itu ciuman kali pertama dan terakhir yang pernah aku lakukan.”
“Mungkin dia kekasihmu, bagaimana dengan wajahnya?”
“Itulah kenapa aku ragu, aku hanya mengingat rasa manis dan lembut bibirnya. Selain itu gelap, seperti saat ini di sini, gelap gulita. Dan tidak mungkin juga aku berciuman disini.”
“Mungkin kau benar, itu hanya khayalan atau mimpi.”

Aku dan dia jadi sering mengobrol sebelum tidur, setiap hari, setelah kami sama – sama menahan rasa sakit karena disiksa. Bicara dengannya seakan menjadi painkiller atas semua siksaan kejam yang aku alami setiap hari. Meskipun aku tak tahu namanya, aku tak tahu jenis kelaminnya, meski aku baru dicambuk, meski perutku habis disetrika, meski kuku jari kakiku habis dicabut, tapi saat mengobrol dengannya, kami seakan meninggalkan raga kami beserta rasa sakit yang kami derita lalu terbang ke negeri khayalan layaknya surga.

“Aku tak menyangka aku bisa mendapatkan teman sepertimu di sini, kau seperti lentera kecil di kegelapan bagiku.” Aku bicara dari lubuk hatiku, kuharap dia kan mengerti.
“Ya… aku juga merasakan hal yang sama, setelah kau ada di sini, aku merasa senang, dan aku merasa buruk memiliki perasaan itu.”
“Haha… huft, andai saja kita bertemu dalam keadaan yang berbeda, kita mungkin sudah menjadi sepasang kekasih.”
“Kau tahu? Kau memang kekasihku, sejak pertama kali kau mau bicara denganku.”
“Bagaimana bisa?”
“Apa kau tidak merasakannya? Getaran itu, cahaya yang membuat hati ini hangat dan cerah kembali.”
“Sekarang iya, semakin lama di sini, aku semakin bisa menghargai cahaya walau hanya seberkas saja.”
“Cahaya itu indah kan sayang?”
“Sangat indah, sayang…”

Kami tak pernah membicarakan tentang rasa sakit kami, siksaan yang baru kami alami, atau membicarakan anggota komunitas dan tawanan lain, tidak pernah. Yang ada hanya kami berdua dan tokoh tokoh fiksi yang kami ciptakan. Mungkin bisa dikatakan seperti kita saat ini, aku bercerita padamu, menembus ruang dan waktu. Tentang dunia yang belum pernah kau datangi sebelumnya. Tapi disinilah kita sekarang.

Suatu saat aku terbangun lalu memanggilnya perlahan, namun tidak ada jawaban sedikitpun. Setiap tawanan memang selalu disiksa bergantian agar sesama tawanan tidak pernah bertemu. Namun siksaan terberatku bukanlah cambuk atau pun api, tapi saat dimana aku harus duduk sendiri menunggu kekasihku kembali ke dalam sel, sambil terus mendoakan keselamatannya serta diringankan rasa sakitnya hingga dia kembali. Tapi hari ini berbeda, dari aku bangun sampai begitu lama dia tidak juga kembali. Aku begitu mengkhawatirkannya.

Sampai datang giliranku disiksa, aku tak lagi merasakan rasa sakit, aku hanya mengkhawatirkan dia kekasihku. Sampai aku melewati tiga kali siksaan yang itu berarti sudah tiga hari dan dia belum juga kembali. Aku semakin khawatir. Untuk pertama kalinya aku merasa takut di dalam sel itu, sendiri, kesepian, hampa, tak berdaya.

Dalam keheningan sayup – sayup terdengar suara pintu sel sebelah terbuka. Aku menunggu para pemuja setan itu pergi untuk memastikan apakah dia benar – benar telah kembali.

“Hey… hey… sayang… kaukah itu?”
“H… hey… ka… kau… masih disitu?” suaranya begitu lemah, terbata – bata, dan sedikit menggigil.
“Kau kenapa? Apa yang mereka lakukan padamu?”
“A… aku ti.. tidak apa.. a… pa…” terdengar jelas dia sedang begitu kedinginan.
“Baiklah, terus hangatkan tubuhmu sebisa mungkin. Jangan ditahan, terus menggigil, itu membuat tubuhmu terus hangat, tak usah bicara, lakukan saja yang aku katakan ya. Aku akan terus disini temanimu, andai aku bisa menembus tembok ini, akan aku peluk kau dan takkan aku lepaskan.” aku terus berbicara dengannya meski dia tak menjawabku dan terus menggigil.

Sebisa mungkin kubawa dia ke negeri khayalan kami. Dimana kehangatan tak pernah padam. Dimana aku bisa terus memeluknya.

Semakin hari sakitnya semakin parah. Aku merasa tak berdaya lagi.
“Sayang… kau masih bersamaku?”
“Se… sela… lu.”
“Lubang ini, yang selalu menghubungkan kita, apa kau yang membuatnya? Bagaimana caranya?”
“Sik… sikat…. Gi…”
“Sikat gigi?”

Dia memasukan sesuatu ke dalam lubang untuk kuterima. Ternyata sebuah batang sikat gigi yang dia asah sendiri untuk melubangi tembok dikit demi sedikit. Sayangnya batang sikat itu sudah sangat pendek. Tidak mungkin bisa aku menggunakannya untuk melebarkan lubang itu. Mencuri sikat gigi sangatlah sulit, entah bagaimana dia melakukannya. Sepertinya aku memiliki ide yang lebih baik.

Aku mengasah lagi batang sikat gigi itu agar bisa kugunakan untuk merobek baju salah satu penjaga, di bagian bahu mereka ada semacam logo kambing iblis yang terbuat dari logam. Untuk mendekati salah satu dari mereka aku harus membuat masalah saat penyikasaan nanti. Jika itu terjadi siksa hari ini akan menjadi siksaan terkejam yang pernah aku alami selama disini. Sayang, aku tak ingin membawamu ke duniaku yang ini.

Aku berhasil, entah bagaimana aku berhasil mendapatkannya. Meski mereka menghancurkan kedua jempol kakiku, memotong jari kelingking tangan kananku, dan juga mereka memotong jari yang paling berharga untukku, jari manis tangan kiriku. Meskipun begitu menyakitkan, logo ini tetap aku sembunyikan di mulutku, itu membuat beberapa gigiku rontok saat mereka memukuliku.

Hari demi hari aku memperlebar lubang itu untuk bisa bertemu dengan kekasihku di balik tembok ini. Serpihan tembok tidak boleh terlalu banyak dalam sehari karena aku harus menyembunyikannya dalam ember kotoran. Kurela kedingingan setiap malam, lubang itu harus terus aku tutupi dengan kain kotor yang sudah kuanggap menjadi selimut kesayangan.

Lubang sudah mulai melebar satu batu bata sudah bisa aku lepas. Aku dan dia bisa saling berpegangan tangan. Kami begitu senang sampai tangis tak lagi terbendung. Kurasakan tangannya yang begitu lemah tak berdaya. Suhu tubuhnya masih hangat. Mereka sudah tidak lagi menyiksa dia, mereka hanya membiarkannya begitu saja.

Melebarkan lubang itu semakin bertambah mudah. Batu bata satu persatu bisa aku singkirkan. Kali ini aku tak peduli lagi lubang itu ketahuan mereka. Aku hanya ingin bertemu dengan kekasihku. Kepalaku bisa masuk ke dalam lubang melewati tembok, tapi tidak dengan tubuhku. Dalam gelap kurasakan ciuman yang begitu hangat, begitu lembut, dan basah oleh air mata kami berdua.

Lubang sebesar itu tak bisa lagi kami tutup – tutupi. Tak lama kemudian beberapa orang masuk ke selku. Ada sedikit cahaya saat mereka membuka pintu, meski sekilas aku bisa melihat wajah kekasihku yang begitu indah, lebih indah dari yang aku bayangkan selama ini. Mereka terus bergegas untuk membawaku pergi. Kami terus berusaha saling berpegangan tangan namun mereka terlalu kuat. Begitu pegangan kami terlepas mereka langsung membawaku pergi meski aku terus meronta. Sementara sebagian dari mereka masuk ke sel kekasihku. Aku tak tahu apa yang akan mereka lakukan padanya. Namun aku tahu itu pasti akan menyakitkan dan aku terus berteriak meminta ampunan agar tidak ada yang menyiksa dia. Tapi seberapa kuatpun aku berteriak, mereka tak mau mendengarkan dan bahkan malah terus memukuliku.

Aku dibawa ke sebuah ruangan yang terang dan luas, aku dimasukkan ke sebuah sel tepat di tengah – tengah ruangan tersebut. Berbeda dengan sel sebelumnya yang kumuh, sel ini begitu bersih dan terbuat dari kaca. Di bawahnya terdapat roda roda yang membuat sel ini mudah dipindahkan.

Beberapa jam kemudian datang beberapa dari mereka masih menggunakan pakaian dan tudung hitam yang sama ke dalam ruangan. Tapi ada salah satu dari mereka yang berbeda. Dia mengenakan pakaian dan tudung merah, jelas sekali dia adalah pemimpin di tempat ini dari cara pengikutnya memberinya hormat.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya dia padaku dengan santainya.
“Seperti kau lihat, telanjang.” Jawabku ketus.

Sel kaca itu terdapat lubang angin sebesar lingkar jari berjumlah lima di setiap arah. Selain untuk bernafas, itu membuat suaraku terdengar dari luar sel.

“Aku tak menyangka akan ada cerita cinta di tempat ini. Kau tawanan paling merepotkan di sini.”
“Di mana kekasihku? Aku ingin melihatnya.”
“Kekasihmu kau bilang? Kalian menjalin hubungan tapi kau bahkan tak tahu namanya? Haha…” dia dan anak buahnya tertawa.
“Tolong, lepaskan dia, setelah itu kau bebas menyiksaku sepuasmu.”
“Wow, cintamu begitu besar, aku salut. Tapi di sini kita tidak sedang bernegosiasi. Masalahnya kau telah merusak asetku.”
“Apa maksudmu?”
“Apa kau belum sadar juga, kami menyiksa kalian tapi tak ada satupun dari kalian mati. Kami sedang menciptakan pasukan, jari – jari kalian yang hilang juga nantinya akan mudah kami ganti dengan yang lebih kuat.”
“Aku tak peduli.”
“Tak penting kau peduli atau tidak, tak lama lagi kau juga akan kehilangan ingatanmu.”
“Jadi kau yang telah mengambil ingatan dia?”
“Tidak, aku membuang ingatannya dan perlu waktu untuk membuang perasaannya juga. Tapi kau, kau malah merusaknya dengan meracuni dia dengan cinta konyolmu. Sekarang aku tak bisa lagi membuang ingatan ataupun perasaannya lagi. Itu merupakan proses satu kali dan tidak bisa diulang. Dia tidak ada gunanya lagi.”
“Kalau begitu, kenapa tidak kau lepaskan saja dia?”
“Tapi orang tak berguna pun masih bisa digunakan, paling tidak untuk orang sepertimu. Oh ya, aku lupa memperkenalkan diriku.” Dia melepas tudungnya sambil tersenyum.

Aku tak menyangka dia adalah teman lamaku, Aldi adalah pemimpin di sini, dalang atas semua ini. Aku kira dia hanya orang bodoh yang salah memilih aliran sesat. Ternyata dia lebih bodoh lagi, dia adalah apa yang disebut ‘sesat’ itu sendiri.

“Bawa dia masuk!” suruh Aldi kepada anak buahnya.

Aldi dan pengikutnya keluar, lalu beberapa saat kemudian pintu terbuka lebar, dan muncul sebuah sel kaca seperti yang aku tempati didorong oleh dua orang suruhan Aldi. Dan aku tak tahu harus merasa apa, kekasihku ada di dalam sel itu dalam keadaan yang mengenaskan. Mereka menempatkan sel kami bersebelahan tapi mereka memberi jarak sekitar satu meter diantara sel kami.

“Sayang, bertahanlah, aku akan mencari cara untuk menyelamatkanmu.” Ucapku.
“Tidak, aku sudah lelah, usahamu akan sia – sia.” suaranya begitu lemah.

Seseorang masuk ke ruangan dengan membawa makanan. Ada semacam pintu kecil di pojokan untuk memasukkan makanan. Tapi mereka hanya memasukkan makanan ke selku dan membiarkan kekasihku terus kelaparan.

“Hey… kenapa cuma aku? Mana makanan dia? Aku tak butuh makanan ini, berikan saja pada dia. Hey… hey… dengarkan aku bangsat….” orang itu mengacuhkanku dan pergi begitu saja.

Aku tak menyentuh makananku, bagaimana bisa aku makan selagi kekasihku kelaparan tepat di depanku. Meski sebenarnya kami telah menyiapkan diri untuk menerima hukuman saat pertama kali memutuskan untuk memperlebar lubang itu. Tapi kami tak mengharapkan hukuman seperti ini. Terutama aku, aku tak tahan lagi melihat kekasihku menderita seperti ini.

Semakin lama aku mulai semakin lapar, mereka terus memberiku makanan dan membiarkan kekasihku. Dia takkan bisa bertahan lebih lama lagi.

“Makan saja, jangan pedulikan aku.” Ucapnya lemah.
“Tidak, aku tidak akan makan jika kau belum makan.”

Aku harus bisa menolongnya, paling tidak aku harus bisa memberinya makan. Aku terus membentur – benturkan badanku ke kaca. Namun sekuat apapun aku mencobanya kaca itu tidak bisa pecah. Namun aku tersadar, meski sel ini berat, sel ini bisa bergerak meski sedikit demi sedikit saat aku benturkan badanku, karena sel ini memiliki roda di bagian bawahnya. Aku terus mencoba menggerakkan sel ini meski sangat sulit.

Sampai akhirnya aku berhasil mendekatkan sel kami dan menjajarkan lubang angin sel kami agar aku bisa sedikit demi sedikit memasukkan makanan.

“Sayang, makanlah ini, kau harus bertahan.”

Dia memungut makanan yang aku masukkan sedikit demi sedikit. Aku sungguh tak tega. Aku harus memberinya minum dari mulut ke mulut melewati lubang agar minuman tidak terlalu banyak yang tumpah. Namun tetap saja banyak sekali minuman yang terbuang sia – sia.

“Sudah – sudah, aku sudah kenyang.” ucapnya.
“Tidak, ini tambah lagi, kau harus kuat.”
“Tidak, kau juga harus makan, aku tidak mau makan lagi.”
“Baiklah, aku akan makan, akan aku sisakan dan kau harus makan lagi.”

Kami bergantian makan, kami pun bisa kembali tersenyum, namun tak bertahan lama. Setelah makanan kami benar – benar habis entah kenapa mereka tak memberi kami makan lagi. Tak ada satupun dari mereka masuk ke ruangan itu.

Kami selalu memasukkan jari – jari kami yang sudah tidak lengkap ke dalam lubang agar bisa saling bersentuhan meski hanya sedikit. Tanpa makanan dia takkan bisa bertahan, aku terus berteriak agar mereka memberi kami makan.

Semakin lama, dan mungkin sudah beberapa kali berganti hari. Kekasihku sudah terlalu pucat dan lemah.

“Hey… dimana kalian!!??” teriakku.
“Sudahlah, mereka takkan kesini.”
“Tapi kita butuh makan, kau butuh makan.” Aku kembali memasukkan jariku ke lubang dan dia pun menyentuhku dengan jari jari tangannya yang lemah.
“Tidak, aku sudah lelah.”
“Bertahanlah, tetap bersamaku.”
“Sepertinya waktuku takkan lama lagi.”
“Jangan bicara seperti itu, kau akan kubawa pulang ke rumahku. Aku tak punya siapa – siapa lagi kecuali kamu. Kita bisa hidup berdua bahagia selamanya di sana.”
“Kuharap itu bisa menjadi kenyataan.” dia tersenyum.
“Tentu saja, aku akan jadikan semua menjadi nyata.”
“Aku lelah, ingin kututup mata ini.”
“Tetaplah terjaga, jangan tinggalkan aku. Berjanjilah kita akan terlelap hanya jika kita berbaring bersama, di rumahku, di kamar kita nanti.”
“Ya… Aku janji.” Tangannya lepas dari lubang dan perlahan turun ke bawah. Tanganku pun ikut mengikutinya di balik kaca, berharap bisa kugenggam tangannya erat untuk menahannya pergi.

Semua menjadi semakin sunyi, kosong, dan hampa. Hanya ada duka dan air mata. Aku kehilangan kekasihku, ingin sekali aku berteriak sekuat tenaga, namun tak ada suara yang mampu keluar dari mulutku. Semua terpendam di dalam dada, begitu berat hingga tak mampu aku melepaskannya. Aku terhening begitu lama dalam kesedihanku. Setelah beberapa lama mencoba akhirnya aku bisa berteriak, aku berteriak sekuat tenaga mengeluarkan pedih ini, namun duka ini terlalu besar. Rasa kehilanganku terlalu mendalam. Seakan tak ada lagi alasanku untuk tetap bertahan hidup di tempat ini.

Aku terus membenturkan kepalaku ke dinding kaca agar kepalaku pecah. Namun beberapa orang masuk dan mencegahku. Mereka mengikatku begitu erat. Lalu mereka membawaku menelusuri lorong, entah kemana mereka akan membawaku, yang jelas itu bukan jalan ke sel lamaku. Meski pandanganku sedikit terhalang oleh darah yang terus mengalir dari dahiku, tapi aku bisa melihat banyak sel-sel tawanan lain dengan suara – suara perih dan meminta tolong di dalamnya. Aku juga melihat banyak kamar – kamar penyiksaan. Benar – benar neraka yang Aldi bangun di tempat ini.

Aku ternyata dibawa ke ruangan Aldi. Ruangannya begitu mewah, dengan sofa dan layar televisi LED yang besar. Aldi duduk di sebuah kursi besar dan mewah. Aku didudukkan ke sebuah kursi kayu di tengah ruangan. Dua orang yang membawaku segera pergi.

Aldi mendekatiku dengan membawa sapu tangan. Dia mengusap darah di dahiku. Aku berusaha mengelak tapi Aldi tetap bersikeras dengan memegang kepalaku erat.

“Kau tahu, kau masih temanku.” kata Aldi.

Aku tak menghiraukan kata – katanya. Hanya dalam hati aku bertanya bagaimana dia bisa berkata seperti itu setelah semua yang telah ia lakukan padaku.

“Semua yang aku lakukan ini untukmu, aku mempersiapkanmu agar kau bisa memimpin pasukanku. Kau yang terbaik dari semua pasukan yang aku miliki. Aku tahu karena kita telah berteman sejak lama.” Sambil terus mengobati luka di dahiku.
“Kau bukan temanku.”
“Kau salah, aku selalu jadi temanmu, mungkin kau telah berkhianat dengan mencintai teman sebelah kamarmu, tapi aku…” Aldi terus mengoceh sementara aku memikirkan bagaimana cara membunuhnya.

Tanganku terikat di belakang, kakiku bisa menendangnya tapi itu takkan bisa membunuhnya. Hanya ada satu jalan untuk membunuhnya. Aku secara mendadak benturkan kepalaku ke dagu Aldi. Saat dia jatuh ke belakang, aku gigit tenggorokannya sampai jakunnya terlepas. Dia tidak bisa teriak atau mengoceh lagi. Namun aku tak menyangka ternyata Aldi membawa pisau selama berbicara denganku. Dan pisau itu sudah menancap di perutku. Sambil menahan perih aku mencoba memindahkan ikatan tanganku ke depan melewati kakiku. Meskipun itu artinya aku harus menggunakan otot perutku dan itu sungguh sangat menyakitkan.

Setelah berhasil kucabut pisau dari perutku dan kugunakan untuk memotong tali yang mengikat tanganku. Aku menutup lukaku dengan kain yang bisa aku temukan disitu lalu aku mencari baju dan juga jubah yang sama yang dipakai Aldi, agar saat aku keluar tidak ada yang bisa mengenalku. Saat aku keluar dua penjaga memberiku salam dan mau masuk ke ruangan. Aku melarangnya masuk dan kuminta dia tetap di tempat dengan bahasa isyarat. Untung mereka memahaminya dan tidak mencurigaiku.

Aku pergi ke ruang tawanan yang paling memiliki sel paling banyak. Disitu hanya ada satu penjaga, aku dengan mudah membunuhnya dengan pisau saat dia memberi salam penghormatan untukku. Aku mengambil kunci dari mayatnya lalu kulepas tudungku dan kubuka pintu sel satu persatu sambil terus mengatakan hal yang sama ‘Bunuh mereka, lepaskan tawanan lain, lalu bakar tempat ini’. Aku berikan kunci ke salah satu tawanan. Para tawanan menurutiku, tak selang berapa lama tempat itu menjadi chaos dan aku harus melepas bajuku lagi agar tidak dikira anggota komunitas setan seperti Aldi dan pengikutnya.

Aku mencoba keluar secepatnya sambil terus berlindung di dalam kerusuhan. Jumlah anak buah Aldi sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah tawanan. Saat memungkinkan aku dan beberapa tawanan pun keluar dari tempat itu.

Aku mendapati saat itu ternyata malam hari dan setelah sekian lama baru kali ini bisa melihat langit yang begitu indah dengan bulan dan bintang yang cahayanya begitu mengagumkan.

Tempat itu benar – benar habis terbakar. Semua orang berhamburan keluar. Tapi setiap ada anggota komunitas yang terlihat, semua tawanan yang melihatnya akan beramai – ramai membantainya. Mereka dipenuhi rasa benci dan dendam. Sementara aku memilih pulang ke rumah. Berjalan kaki sendiri melewati bukit dan hutan.

Aku mencuri baju dari sebuah desa terpencil yang aku lewati. Hingga aku sampai ke sebuah lorong di sebuah desa yang sepi dan aku baru tersadar. Desa ini terlalu sepi. Seakan semua orang pergi menggalkannya begitu saja. Aku beristirahat di sebuah bangku kayu dimana aku menemukan buku kosong dan pensil yang terselip di bawah bangku. Itu pertama kali aku bertemu denganmu, terselip di bawah bangku. Lubang di tembok milik kita sendiri.

Sepertinya pagi akan segera menjelang. Aku harus meneruskan perjalananku. Dan aku akui, aku begitu kagum denganmu sayangku, kau masih mau menemaniku. Itu begitu sangat berarti bagiku.

Inilah rumahku. Sudah hampir roboh. Tanpa tetangga yang mengganggu karena mereka semua pergi saat bencana gas beracun belasan tahun lalu. Meski sudah menjadi kota mati, tempat ini masih rumahku. Ini kamar orang tuaku, mereka berdua meninggal di kamar ini karena gas itu. Aku beruntung masih hidup dan bisa dilarikan ke pengungsian oleh tetanggaku. Sementara adikku meninggal di pengungsian, mereka terlambat mengobatinya.

Aku hampir tidak percaya kita berhasil sampai disini. Terimakasih kau masih setia bersamaku, temani hari hari terburukku. Semua akan terbayar di sini, di tempat tujuanku, tujuan kita. Sebentar lagi.

Inilah kamarku, semua masih berada pada tempatnya. Pintu, dinding kayu, meja belajar, dan semua foto foto masa kecilku bersama keluargaku. Kau akan mengenalku dengan berbeda jika kau bertemu aku pada foto itu. Dan tempat tidur ini, aku masih ingat hangat belaian dan dongeng yang selalu ibuku ceritakan padaku sebelum tidur. Aku begitu merindukannya.

Inilah akhir tujuanku, berbaring disini bersamamu. Semoga setelah semua yang kita lalui bersama memiliki arti tersendiri untukmu. Meski aku tidak tahu namamu, dan kau pun juga begitu, tapi percayalah, aku begitu menyayangimu sepenuh hati. Maka dekatkan aku ke hatimu. Peluk dan cium yang begitu basah oleh air mata ini hanyalah untukmu. Di akhir hela nafasku…

“Aku mencintaimu”

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: